Senin, 16 April 2012

UJI GOLONGAN DARAH SISTEM ABO




PEWARISAN SIFAT YANG DITENTUKAN OLEH ALEL GANDA (GOLONGAN DARAH)
1.      Tujuan
1.1  mengenal beberapa sifat genetic pada manusia yang ditentukan oleh alel ganda.
1.2  mengetahui distribusi golongan darah system ABO pada populasi kelas.

2.      Landasan teori
Pada makhluk hidup yang berkembang biak secara seksual, tiap individu baru berasal dari perkembagan dan pertumbuhan sel zigot yaitu sel yang merupakan hasil persatuan antara sel kelamin jatan (spermatozoa) dengan sel kelamin betina (ovum) yang masing-masing adalah haploid. Dengan demikian cirri-ciri genetis yang  dibawa oleh zigot (2n) adalah gabungan antara ciri-ciri genetis sel kelamin jantan dan sel kelamin betina.
            Gen adalah rantai DNA yang panjang dan terdiri dari banyak pasang nukleotida. Rangkaian nukleotida dalam DNA inilah yang membawa informasi yang terkandung dalam sebuah gen dapat menghaslkan alel-alel baru, sehingga sebuah gen memiliki potensi untuk memiliki jutaan alel yang berbeda.
            Gen yang sealel ini waktu pembentukan gamet (gametogenesis) akan memisah (dikenal dengan prinsip segregasi bebas) dan waktu berpasang-pasangan lagi pada proses fertilisasi. Mekanisme penurunan sifat ini pertama kali dikemukakan oleh Gregor Mendel. Secara kebetulan tumbuhan yang digunakan Mendel adalah Ercis (Pisum Sativum), gen pengendalinya bersifat bebas yang artinya satu gen terletak pada satu kromosom.
            Alel adalah gen yang menjadi anggota dari sepasang gen yang sama. Masing-masing alel memiliki pengaruh terhadap suatu karakter khusus yang berbeda dengan alel yang lain. Organisme diploid memiliki pasangan-pasangan gen yang masing-masing terdiri dari 2 alel. Alel ganda adalah keadaan dimana sebuah gen memiliki lebih dari 1 alel. Keadaan ini disebut multiple alel sedangkan perangkat dari alel-alel tersebut disebut deret alel. Alel ganda terjadi karena terjadi karena terjadi beberap mutasi gen.
            Adanya alel ganda individu diploid tidak hanya memiliki 3 kemungkinan genotip tetapi kemungkinan genotipnya menjadi lebih dari 3. Beberapa sifat yang ditentukan oleh alel ganda antara lain golongan darah system ABO, tumbuhnya rambut pada segmen digitalis kedua dari ruas jari tangan manusia, sifat warna rambut pada kelinci serta warna mata pada drosophila.
            Golongan darah system ABO pada manusia dikendalikan oleh tiga alel ganda yaitu IA, IB, dan i. Alel IA dan IB dominan terhadap i, alel IA dan IB tidak dominan sesamanya namun bersifat kodominan. Adanya 3 alel ini menentukan 4 macam golongan darah pada manusia yaitu golongan darah A dengan genotip IAIA, golongan darah B dengan genotip IBIB, golongan darah AB dengan genotip IAIB serta golongan darah O dengan genotip ii.
            Orang yang mempunyai golongan darah A dalam eritrositnya terdapat Antigen A dan didalam plasma darahnya terdapat zat anti B. orang yang bergolongan darah B memiliki antigen B di dalam eritrositnya da zat anti A di dalam plasma darahnya. Orang yang memiliki golongan darah AB memiliki antigen A da antigen B didalam eritrositnya, namun tidak memiliki zat anti A dan zat anti B di dalam plasma darahnya. Sedangkan orang yang bergolongan darah O tidak memiliki antigen A dan B di dalam eritrositnya dan hanya memiliki zat anti A dan zat anti B di dalam plasmanya.
            Dalam suatu populasi golongan darah terbanyak adalah golongan darah O, diikitu golongan darah B, selanjutnya glongan darah A dan paling sedikit adalah golongan darah AB. Frekuensi golongan darah ini berbeda-beda pada setiap bangsa. Penelitian yang pernh dilakukan di Jawa pada daerah Ampelgading dari 450 orang, 30,4 % bergolongan darah O, kemudian 24,7% bergolongan darah A, golongan darah B sebesar 37,4% dan hanya 7,6% bergolongan darah AB.

3.      Alat dan bahan
Kegiatan I                                                       Kegiatan 2
1.      darah                                                         1. Jari tangan
2.      serum anti A dan anti B                            2. loup
3.      kaca objek                                                 3. Alat tulis
4.      blood lancet
5.      kapas
6.      alcohol
7.      pengaduk/ tusuk gigi

4.      Cara kerja
Kegiatan 1
1.      Memijat ujung jari tengah/ manis tangan kiri, kemudian membersihkan ujung jari tersebut dengan kapas yang telah dibasahi denga alcohol 70%.
2.      Menusuk ujung jari yang telah dibersihkan dengan jarum lancet yang steril hingga keluar darah. Kemudian meneteskan darah yang keluar pada objek glass di tiga tempat seperti gambar dibawah ini:
1             2                   3


3.      Menambahkan pada tetes:
No. 1         : satu tetes anti A
No. 2         : satu tetes anti B
No. 3         : satu tetes anti AB
4.      Mengaduk masing-masing tetes dengan tusuk gigi yang berbeda untuk menghindari kontaminasi.
5.      Mengamati apa yang terjadi pada setiap tetes darah setelah masing-masing ditambah dengan zat anti.
6.      Memperhatikan, bila:
a.       Darah + zat anti A menggumpal, darah + zat anti B tidak menggumpal maka golongan darah A
b.      Darah + zat anti A tidak menggumpal, darah + zat anti B menggumpal maka golongan darah B
c.       Darah + zat anti A menggumpal, darah + zat anti B menggumpal maka golongan darah AB
d.      Darah + zat anti A tidak menggumpal, darah + zat anti B tidak menggumpal maka golongan darah O
e.       Memasukkan hasil pengamatan pada tabel dan mengambil kesimpulan
5.      Hasil pengamatan
5.1 Tabel pengamatan golongan darah (data kelompok)
Nama praktikan
Perlakuan
Pengamatan
Golongan darah
Chulia mubtadiah
+ anti A
+ anti B
Tidak menggumpal
Menggumpal
B
Didit candra
+ anti A
+ anti B
Menggumpal
Tidak menggumpal
A
Inayah
+ anti A
+ anti B
Tidak menggumpal
Tidak menggumpal
O
Novian fitri
+ anti A
+ anti B
Menggumpal
Tidak menggumpal
A
5.2 tebel pengamatan golongan darah (data kelas)
Golongan darah
Jumlah
presentase
A
9
28,125 %
B
10
31,25 %
AB
2
6, 25%
O
11
34,375 %

6.      Pembahasan
Pada praktikum uji golongan darah diperoleh pada golongan darah diperoleh golongan darah O lebih banyak yaitu sebesar 34,375 %, kemudian golongan darah B sebesar 31,25 %, golongan darah A sebesar 28,125 % dan terakhir golongan darah AB sebanyak 6,25 %.
Hukum Hardy-Weinberg menunjukkan presentase golongan darah berdasarkan genotipnya. Penentuan alel ganda ditentukan oleh alel ganda. jika presentase hasil semua genotip sejumlah probandus, maka perhitungan ini benar.
Golongan darah manusia system ABO ditentukan oleh alel IA, IB, dan i. dari ketiga alel tersebut terbentuk enam kombinasi golongan darah yaitu IA IA, IA i, IB IB, IB I, IA IB dan ii. Meski ada 6 kombinasi yang mungkin terjadi namun manusia hanya mempunyai 4 tipe golongan darah menurut system ABO, yaitu A, B, AB dan O. hal ini terjadi karena alel IA dan IB dominan penuh terhadap I, sedangkan IA kodominan dengan IB dan disimbolkan (IA = IB).
Gen i menghasilkan suatu molekul protein yang disebut isoglutanin yang terdapat pada permukaan sel darah merah. Orang dengan alel IA dapat membentuk aglutinogen atau antigen yang disebut antigen A dalam eritrosit yang kemudian dapat bereaksi denga anti bodi atau agglutinin atau zat anti B yang terdapat didalam serum atau plasma darah.
Untuk mengetahui golongan darah seseorang, dilakukan dengan cara meneteskan serum anti A, serum anti B dan serum anti AB. Karena jika antigen A bertemu dengan zat anti A maka terjadi penggumpalan darah. Begitupula jika antigen B pada eritrosit bertemu dengan zat ati B dari serum akan terjadi penggumpalan darah.
7.      Kesimpulan
7.1 golongan darah manusia merupakan suatu fenotip yang dipengaruhi oleh alel ganda.
7.2 seseorang dikatakan bergolonga darah apabila saat darah ditetesi serum anti A menggumpal, serum anti B tidak menggumpal dan serum anti AB menggumpal.
7.3 Seseorang dikatakan bergolonga darah B apabila setelah darah ditetesi serum anti A tidak menggumpal, serum anti B menggumpal dan serum ati AB menggumpal.
7.4 golongan darah AB apabila darah setelah ditetesi serum anti A, B dan AB menggumpal.
7.5 orang dengan golongan darah O apabila darah setelah ditetesi serum anti A, B dan AB tidak menggumpal.

8.      Daftar Pustaka
-          Widianti. T dn Noor Aini. H. 2011. Petunjuk Praktikum Genetika. Semarang. Biologi UNNES.
-          Iswari. 2009. Petunjuk Praktikum Biologi Umum. Semarang. Laboratorium Biologi UNNES.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar